Melepas Penat di Pantai Jungwook

 


Oleh: Dani Anwar Hadi

Akhirnya hal yang telah lama diwacanakan dapat terlaksana pada Sabtu siang kala itu. Berlibur ke pantai Jungwook di Jogja Bersama teman-teman. Sebelum akhinya berangkat untuk bertamasya, terjadi banyak perdebatan dalam merencanakan healing ini.

Sepekan sebelum Sabtu (14 Mei 2022), wacana yang lama telah didiskusikan kembali diangkat oleh Miftah, “ayoo, jarene meh mantai nek Jogja” atau dalam bahasa Indonesianya “ayo, katanya mau ke pantai di Jogja” terang dia ketika sedang berkumpul Bersama teman-teman di sebuah angkringan. Saya menjawab dengan nada agak tinggi, “lah ayo, sopo wae sek meh melu, ngelist yoh cobo nek grup.” atau dalam bahasa Indonesianya “ayo lah, siapa saja yang mau ikut, ayo buat daftar yang ikut di grup.” Yaaa pada saat itu terdapat perbincangan yang tak kunjung selesai perihal siapa saja yang ikut, mau berangkat kapan, dan mau naik apa nanti ketika berangkat. Pada akhirnya kesepakatan pemberangkatan akan dilakukan pada pekan depan di hari Sabtu, dan menginap mendirikan tenda sampai hari Ahad esok harinya.

Hari Sabtu pun tiba, segala perlengkapan yang seharusnya disiapkan belum disiapkan sama sekali, kehebohan pun membara di grup whatsapp. Tulisan “sido ora” dituliskan di grup untuk memantik teman-teman. Karena sampai jam 10 pagi pun teman-teman masih pada belum kumpul di satu tempat untuk mengkoordinir. “tenda ne wis mbok jupok urung?” tanya saya di pagi hari dengan Miftah. “wis ngakon Soleh ro Raya”, sahut Miftah yang langsung tak sahut kembali dengan perintah untuk sekalian membeli bahan-bahan yang akan dibakar di sana nantinya. Tak lama kemudian, seluruh personil yang akan mengikuti telah berkumpul, total ber delapan. Ada Ade, Raya, Miftah, Yusuf, Fauzan, Ghalib, Soleh, dan saya sendiri. Ternyata di detik-detik terakhir, Syahrizal yang awalnya mengatakan ada agenda lain di hari itu dia memutuskan untuk ikut ke pantai Jungwook pada hari itu. Akhirnya total ber Sembilan yang akan mengikuti liburan ini. Karena mobil yang akan digunakan hanya satu dan hanya muat menampung delapan orang maka kebingungan pun datang. Niat hati mau menyewa rental mobil, tapi banyak teman-teman yang tidak setuju. Karena uang untuk menyewa mobil bisa digunakan untuk makan di sana. Hahaha. “Lah nyandak ora ki?” tanya Miftah ke teman-teman lainnya. “Wis-wis nyandak, ayo mlebu.” Ade yang menjadi sopir kala itu Meyakinkan keraguan teman-teman. Akhirnya langsung masuk satu per satu, dimulai Ade sang sopir yang sudah berada di dalam, selanjutnya Raya di samping Ade. Padahal Raya termasuk yang paling muda di dalam mobil, karena badannya yang besar, akhirnya sepakat ia untuk ditaruh di depan mendampingi sopir. Selanjutnya masuklah Ghalib, Fauzan, dan Syahrizal, mereka bertiga ke belakang untuk memposisikan tempat duduknya. Kemudian di susul saya, Miftah, dan Soleh. Lantas semua pada kebingungan, karena ada Yusuf yang perlu untuk dijemput dan di samping itu terlihat tempat duduk mobil sudah penuh. “Halah wis nko Ucup kene tengah, cilik kok awake, nyempil wae, hahahaha”, dan akhirnya perjalanan pun dimulai, tujuan awalnya menjemput Yusuf terlebih dahulu di rumahnya.

Pada perjalanan menuju ke rumah Yusuf, perbincangan asik pun dimulai, ada yang mulai melawak, ada yang mulai mapan tidur, ada yang membuat status whatsapp, dan ada pula yang meminta untuk disetelkan musik supaya ramai. Pada intinya rasa gembira tergambarkan di mobil putih milik Ade itu. Perjalanan dengan melewati pedesaan yang asri dan banyak pepohonan yang rindang menambah keasikan di mobil dalam menuju ke rumah Yusuf. Sampailah di rumah Yusuf, dengan membawa tiker Yusuf masuk ke mobil, ia nyempil di bagian tengah, di pinggir saya tepatnya. Yaaa, sekarang tempat duduk agak lebih sempit disbanding sebelumnya, semula yang bisa lendehan di kursi sekarang harus ada yang mengalah untuk tidak lendehan. Akhirnya saya, Miftah, dan Soleh yang berada di tengah mengorbankan pantatnya untuk tidak leluasa dalam menempati kursi di mobil. Perjalanan pun dimulai, semasa di perjalanan, obrolan random pun ditelontarkan setiap orangnya, nyanyian-nyanyian juga dilagukan merdu oleh teman-teman di mobil. Jiwa santai, tenang, dan seolah-olah beban kuliah, tugas, serta organisasi seketika dilupakan pada saat itu. Mereka semua menikmati perjalanan di jalan menuju ke Jogja. Ketika sedang asyik-asyiknya berbincang, Fauzan yang duduk di belakang nyeletuk “jam berapa ini? ingat cuy jam setengah 4 ada kuliah umum.” yaa setelah berhenti untuk melakukan pengisian bahan bakar dan mendirikan salat Ashar akhirnya teman-teman pada menyimak kuliah umum dari program studi sembari melanjutkan perjalanan. Saling meminta hotspot pun terjadi, tidak adanya sinyal di perjalanan menuju ke pantai membuat semua kewalahan dalam mengikuti perkuliahan umum itu. Akhirnya alternatifnya yakni salah satu gawai disalurkan ke sound mobil untuk didengarkan Bersama. Sampainya di daerah Gunung Kidul, sinyalpun hampir semua hilang, tautan presensi yang ditunggu belum juga muncul, dan pada akhirnya semua pasrah dengan mengandalkan satu orang untuk menyimak dan mengirim tautan presensi ketika sudah dibagikan.

Akhirnya setelah perjalanan yang telah dilewati, sekitar pukul 5 sore lebih lima belas menit mobil telah sampai di pantai tujuan. Sampainya di tujuan, saya dan Syahrizal masih kesulitan mencari sinyal untuk mengisi presensi yang sudah dibagikan, karena semua telah mengisi kecuali saya, Syahrizal, dan Ade sebagai sopir maka saya belum tenang. Alhasil ketika mobil sudah diparkir di dekat pantai, saya Bersama Syahrizal turun kembali untuk mencari sinyal. “Deee Adee NIM mu piro? tak presensi sisan, aku ro Rizal ki meh golek sinyal sek”, Ade pun menjawab, setelah hal itu saya bergegas turun dengan Syahrizal. Ketemulah di bawah pohon besar dengan tempelan kertas yang bertuliskan “Sinyal Telkomsel di sini”, akhirnya gawai Syahrizal pun didekatkan di sekitar pohon, dan berhasil mendapatkan sedikit sinyal, saya pun meminta sekalian untuk diisikan presensi, dan akhirnya presensi telah terisi.

Setelah semua tidak mempunyai kesibukan, akhirnya sepakat kita untuk mencari tepi pantai dan dijadikan tempat mendirikan tenda. Setelah melihat kondisi pantai yang mulai petang dan sudah adanya beberapa tenda yang didirikan di sekitaran pantai, akhirnya kita mendapatkan tempat yang akan kita dirikan tenda. Dua tenda sudah dibawa, dibuka dan mulai untuk didirikan. Saya yang baru kali ini mendirikan tenda untuk kemah di pantai awalnya percaya dengan Miftah yang katanya sudah pernah mendirikan tenda seperti itu. Tetapi setelah hampir 2 jam kita berusaha, tenda pun tak kunjung berdiri, dari situlah datang dua ibu-ibu yang merupakan salah satu pengunjung pantai itu. Mereka membantu kami dalam mendirikan tenda, rasa malu pun tampak terlihat dengan ketawa kecil dari teman-teman. “Ini sudah pada lupa bu teman-teman hahaha” sahut Miftah kepada ibu-ibu yang sedang membantu mendirikan tenda itu. “Halah mas-mas dari tadi kok ga jadi-jadi tendanya.” ledek ibu-ibu sembari tertawa kecil. Wowww, alangkah malunya saya dan teman-teman sebagai anak muda yang tidak bisa mendirikan tenda hahahaa. Akhirnya setelah dibantu ibu-ibu, sekitar satu jam tenda pun berdiri satu, untuk tenda yang satunya karena tadi sudah diajari cara yang benar dari ibu-ibu, akhirnya kita bisa mendirikan tenda sendiri selama setengah jam.

Setelah tenda berdiri, barang-barang bawaan pun mulai dimasukkan ke dalam tenda. Yaa setelah tak lama barang-barang mulai dimasukkan, karena semakin malam ombak semakin besar, akhirnya tempat yang kami pilih tersebut terkena ombak, “heeee cuyyy ombaakk, geser-geser”, teriak saya kepada teman-teman. Akhirnya semua berbondong-bondong memindahkan tenda yang sudah berdiri ke tempat yang lebih tinggi, terlihat bukan cuman tenda kami yang terkena hantaman ombak, tetapi pengunjung lain pun sama. Dari situ inisiatif pun datang dari Syahrizal, ia membuat tumpukan pasir di depan tenda yang kami buat, ya akhirnya lumayan bisa sedikit membendung terjangan ombak ke tenda yang sudah kami dirikan. Setelah semua dirasa aman, akhirnya kita bisa memposisikan diri di dalam tenda, mengeluarkan bahan-bahan yang sudah dibawa untuk mulai dibakar. Setelah mengeluarkan semua alat dan bahan, ternyata kita tak membawa piring, panci untuk masak mi, dan tusuk untuk menusuk sosis. Kita hanya membawa gas kecil, sosis, mi instan, dan bakso. Lantas kita mau memasak memakai apa pun bingung kala itu. “Lah ya kaaann, misal semua pada bergantung dengan beberapa orang saja pasti gini” celetuk saya dengan nada kesal. “Yawis ayo nang warung wae maem sek”, akhirnya semua beranjak menuju warung untuk memesan makanan. Dan saya pun terselip ide, yakni meminjam alat-alat dari ibu warung tersebut. Setelah mau membayar, saya pun bernegosiasi dengan ibu-ibu yang menjaga warung “bu, teng mriki wonten panci? angsal ngampil mboten?” ibu penjaga warung itu pun menjawab dengan lemah lembut “wonten mas, monggo diampil mawon, teng mriki wonten katah kok”, “sekalian piring kaleh gelas angsal bu? hehehe” tambah saya dengan nada agak malu. “mboten nopo-nopo mas monggo”, ibu-ibu tersebut menjawabnya kembali dengan lemah lembut dan murah senyum. Hal itu lah yang menjadikan kita betah di sini, selain pemandangannya yang luar biasa, juga para penjualnya ramah-ramah dan enak untuk dimintai bantuan. Akhirnya setelah mendapatkan semua alat, saya dan teman-teman kembali ke tenda dan melaksanakan bakar-bakar sosis dan bahan-bahan lainnya yang dibawa. Sembari menikmati pemandangan, kita pun menyanyikan beberapa lagu dengan iringan musik yang ada digawai karena teman-teman kembali lupa untuk membawa gitar sebagai alat untuk hiburan di malam harinya. Hmmm semua alat lupa untuk dibawa, beginilah jika liburan tidak dipersiapkan secara matang dan kompak. Tetapi sudahlah, pada saat itu kita menikmati riuhnya ombak dan indahnya pemandangan di malam hari sekitaran pantai Jungwook. Tampak batu karang yang besar menghiasi pantai Jungwook, ditambah pengunjung yang ramai membuat situasi tidak mencekam walaupun ombak makin malam makin besar.

Setelah obrolan dan nyanyian berlangsung cukup lama, jam 12 malam pun tiba, satu per satu sudah memasuki tenda untuk tidur, salah satunya Fauzan yang sudah tidur duluan. Disusul Miftah, Soleh, Raya, Syahrizal, dan Yusuf. Sedangkan aku, Ghalib, dan Ade belum bisa tidur karena resah dengan ombak yang begitu besar makin malam, terutama Ghalib yang sangat takut kala itu, terlihat dari ekspresinya yang cemas dia tampak tidak berani meniggalkan tenda dan seisinya ditinggal tidur oleh semua orang. Sampai pada suatu momen, playlist musik yang disetel memutar lagu “kemarin” milik seventeen, grup band yang malang karena sempat menerpa kejadian bencana alam tsunami ketika konser. Ghalib pun kaget dan langsung berkata “dan ganti dan ganti, medeni yaAllah”, saya pun langsung mengganti lagu yang sedang diputar tersebut. “hahahahaah, iyo iki ganti, lah ngopo lho” jawabku sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah itu, saya pun mulai mengantuk dan memilih untuk memposisikan diri ke dalam tenda dan tidur. Sekitar jam 3 saya terbangun, terlihat teman-teman yang tidur duluan tadi bangun sembari memasak mi yang masih ada. Saya pun terbangun karena aroma mi instan yang menggoda haha. Tetapi cuman sebentar, karena tak tahan kantuk yang berat, akhirnya saya memutuskan untuk tidur kembali. Setelah tertidur saya pun terbangun dan menandakan langit sudah terang, saya pun bergegas untuk melaksanakan salat Subuh terlebih dahulu.

Setelah pagi tiba, teman-teman mulai membersihkan diri dengan cuci muka sebelum kegiatan inti yakni foto-foto dilaksanakan. Tampak suasana pada pagi hari di pantai Jungwook begitu tenang, nyaman, dan indah. Batu karang yang besar-besar tampak begitu jelas di pagi hari, tetap berdiri kokoh walaupun diterjang ombak beberapa kali. Begitu tempat yang indah untuk dijadikan penyegaran, baik itu penyegaran pikiran maupun mata. Setelah semua dirasa siap untuk melakukan foto, maka foto Bersama pun yang paling penting untuk dilakukan terlebih dahulu. Yaa akhirnya pada saat itu menyuruh pengunjung pantai lain untuk memfotokan saya dan teman-teman. Setelah foto Bersama tersebut, teman-teman memposisikan berdasarkan spot foto masing-masing, ada yang membuat video pendek, ada yang nge vlog, dan ada juga yang foto estetik dengan menunggu ombak datang, hahaha begitu tidak merugikan ke pantai tersebut, karena disuguhkan pemandangan yang indah serta udara yang sejuk.


Yaa setelah semua dirasa puas berfoto-foto dan bermain air di pantai Jungwook, tenda pun mulai dirapikan kembali, semua bahan-bahan pun dimasukkan ke mobil, dan tak lupa semua alat yang meminjam ke ibu-ibu penjaga warungnya pun dikembalikan. Sungguh baiknya ibu-ibu penjaga warung yang dipinjami alat, tidak mau diganti dengan biaya upah. Akhirnya untuk mengganti hal tersebut, saya dan teman-teman memutuskan untuk makan di warung tersebut sebelum beranjak untuk pulang. Setelah makan selesai, kami pun pulang ke Solo untuk kembali ke kos dan rumah masing-masing. Di perjalanan pun tampak hampir semua tertidur pulas. Sekitar pukul 3 kurang, kami pun sampai di Solo dengan selamat. Perjalanan yang menyenangkan hehehe.

Komentar

Postingan Populer