Pesta Demokrasi Versi Mahasiswa

 

Suasana siang dengan panasnya matahari menggambarkan khasnya siang di hari Jumat. Ketika baru turun menunaikan kewajiban bagi seorang pria muslim di hari Jumat, saya menyantap nasi kotak yang didapatkan bersama teman-teman. Wadah kotak nasi bentuk persegi dengan sisinya yang berukuran 15 cm, warna mayoritas merah dengan tulisan salah satu warung makan menghiasi kotak makan kala itu yang menjadi santapan makan siang sehabis pulang salat Jumat.

“wuihhh, alhamdulillah rezeki anak soleh.” Ujar Iqbal, salah satu karib saya di tengah-tengah membuka wadah nasi kotak. “ono piro macam ki?” tanya Febri. “loro tok, goreng karo kuah (opor).” tahu Dimas terkait isi dari kotak nasi yang didapatkan. Ruangan ormawa yang sederhana itu menjadikan saksi kebersamaan dalam menyantap nasi kotak yang didapatkan setelah salat Jumat.

Sebelumnya, perbincangan hangat terkait pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa sudah berlangsung semenjak semalam sebelum salat Jumat. Bahkan perbincangan tersebut berlangsung sampai dengan waktu makan Bersama di ruang ormawa itu telah selesai. Celotehan serius sampai celotehan konyol dan sarkas mewarnai keberlangsungan percakapan pada kelompok kecil kami.

Malamnya pada hari Kamis, saya mengirimkan pamflet berinformasikan jadwal debat capres dan cawapres mahasiswa UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) di grup WhatsApp. “sesuk ono debat capres cawapres, sek meh nonton jam 1 awan nek FEB.” Jelas saya. “Ehh, kok dadakan nemen Dan? oranek kampanye ne kah?” Jawab Febri. “Seminggu yang lalu dan hari ini terakhir masa kampanye.” Jawab saya.

Suasana ruangan sederhana ormawa tadi hangat akan perbincangan kemana-mana, sampai pada akhirnya ada celetukan saya untuk mengajak ikut menonton debat capres cawapres, tetapi ada tanggapan beberapa teman saya yang nyeleneh dan sedikit menohok terkait jalannya Student Government (SG) di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Salah satu teman saya nyeletuk “Alah, ora ngaruh nek kehidupanku kok.” ditambah Ihsan sarkas mengatakan “siap mendengarkan bacotan sampah”.

Hal tersebut sudah bisa menggambarkan bahwa Student Government (SG) di Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan BEM Universitas yang menjadi sorongnya belum dapat dirasakan sampai dengan tingkat mahasiswa umum. Hal ini diperkuat tentunya dengan adanya pemilwa ulang yang digelar karena berbagai macam sekelumit permasalahan pada periode sebelumnya.

Setelah menyelesaikan makan siang, saya berpamitan pulang dengan segerombolan teman, dengan alasan tadi, yakni menghadiri debat capres dan cawapres. Karena saya termasuk mahasiswa yang mengikuti politik mahasiswa di lingkup universitas.

Sesampainya di tempat, kampus dua yang dengan kekhasnya lebih elegan daripada kampus satu, ruangannya yang serba baru termasuk hall FEB. Tetapi sayang, lingkungan yang kurang mendukung terdapat di parkirannya, jalan yang rusak di sekitar parkiran membuat agak sulit mahasiswa ketika bersimpangan dengan motor yang lain. Terlepas dari itu, saya turu motor dan mengkroscek bagaimana keadaan debat.

Tak kusangka, ternyata acara yang diinformasikan mulai pukul 13.00, sampai pukul kurang lebih 13.40 belum juga dimulai, batin ku berkata “ini panitia yang salah, atau paslon yang belum hadir ya?” ditambah antusias mahasiswa umum di sekitaran kurang, padahal pesta demokrasi ini diperuntukkan untuk seluruh mahasiswa UMS. Karena merekalah yang nantinya akan menjadi penentu siapa presiden dan wakil presiden terpilihnya.

Akhirnya, pukul 13.50 acara debat capres dan cawapres dimulai. Acara tersebut dimulai dengan penyampaian visi dan misi setiap pasangan calon. Mulai dari 01 sampai dengan pasangan calon nomor 02. Terlihat mereka menyampaikan dengan percaya diri, intonasi dan pelafalan yang jelas membuat para mahasiswa, moderator, dan panelis menyimak penyampaian visi dan misi masing-masing pasangan calon.

Sampai tiba pada akhirnya, ada pertanyaan dari panelis yang menyinggung kehadiran mahasiswa UMS. Dari total sekitar 38.000 mahasiswa katanya hanya sekitar 100 mahasiswa yang hadir di sekeliling hall FEB tersebut. Panelis bertanya terkait sistem demokrasi yang digunakan di kalangan mahasiswa, hanya membebek dari negara-negara lain seperti Amerika maupun Indonesia sendiri atau dikatakan tidak punya khas tersendiri, seolah-olah di sini panelis mempertanyakan atau meragukan sistem pemilihan presiden mahasiswa di kalangan Student Government (SG) atau pemerintahan mahasiswa.

Pertanyaan panelis telah tersampaikan, paslon 01 dan 02 mulai diberikan waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan gagah berani dan lantang, kedua paslon tersebut menjawab bukan perkara sistemnya yang harus dikomentari, tetapi bagaimana kinerja BEM sebagai Lembaga eksekutif di Student Government yang harus diperbaiki dan direvitalisasi, ketika hal itu dilakukan dan ada dampak yang menguntungkan mahasiswa umum, maka secara tidak langsung mahasiswa akan berminat mengikuti dan mengawasi proses berjalannya pemerintahan mahasiswa, begitulah kiranya jawaban dari kedua paslon.   

Sampai pada panelis kedua, dimulai dengan salam menggelegar ala-ala mahasiswa, yakni “hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia.” Ucapan tersebut sontak membuat audiens mahasiswa umum kaget, respon yang beraneka ragam menyelimuti kala itu. “sudah pada hafal sumpah mahasiswa belum semuanya di sini? ayo semua berdiri, kita sumpah mahasiswa Bersama-sama.” lantang sang panelis kedua menyuarakan itu. Lantas mahasiswa berdiri dan mengikutinya, ada satu mahasiswa yang menyimak dari lantai dua tertawa berbahak-bahak. Bukan karena mengejek si panelis kedua, ternyata dia sudah terbiasa berbincang dengan si panelis kedua tersebut. “dia itu mas An’am, presma di tahun 2015, di semester 3 sudah menjadi gubernur di BEM FEB, awalnya banyak yang meragukan dia, tapi dia berhasil membuktikan. Dan pada zamannya, terkenal untuk tidak mau nurut dengan rektor, dosenpun banyak yang agak takut dengannya karena sempat ada kejadian di kontrak belajar yang membuat dosen geleng-geleng kepala. Wis pokoe sangar, wong e songong tapi emang sangar.” Sontak aku kaget mendengarkan itu, awalnya yang tidak mengerti siapa si panelis dua yang begitu semangat dalam Memberikan pernyataan dan pertanyaan kepada kedua paslon tersebut. Ternyata seorang pria dengan tinggi sekitar 170 cm, mempunyai mata yang lebar, rambut yang sedang panjangnya dan disisir model tengah serta ketika berbicara terlihat Meyakinkan tersebut adalah seorang mantan presma dan sering berdiskusi dengan teman saya di salah satu organisasi. “Wow menarik, pingin saya tiru model kepemimpinannya yang berani dan merangkul semua elemen.” gumam saya pada batin.

Menuju pada sesi pertanyaan dari audiens, ada salah satu mahasiswa dari Fakultas Agama Islam yang bertanya terkait kesadaran politik dari mahasiswa UMS, dia melihat kenyataan yang ada yakni hanya sedikit jumlah mahasiswa yang menghadiri debat ini. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada kedua paslon terkait bagaimana menumbuhkan kesadaran mahasiswa akan adanya hal itu. Paslon satu menjawab dengan memaparkan janji-janji program unggulan mereka, sedangkan paslon kedua menjawab terkait revitalisasi BEM U agar berjalan sesuai dengan tupoksinya. Bagi saya semua jawaban menarik, dan harapannya siapapun yang terpilih nanti dapat menjalankan visi misi yang telah dibuat.

Tontonen nko wae lah, mugo-mugo sopo wae sek dadi iso bener-bener berpihak ro mahasiswa lan nguntungne mahasiswa.” gumamku kembali dalam batin.


Komentar

Postingan Populer