Mbah Dahlan – Mbah Hasyim: Meramu Indonesia dengan Memahami Perbedaan

  Sumber Gambar: Islami.co

Oleh: Dani Anwar Hadi

Bangsa Indonesia saat ini telah merdeka semenjak diikrarkannya proklamasi oleh Sang Proklamator Ir Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Jauh sebelum itu, jika kita telisik sejarah, banyak tokoh yang bermunculan dan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan proses kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Yaa, siapa yang tak kenal dengan dua tokoh besar di Indonesia, yakni Kiai Haji (KH) Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan.

Berbicara mengenai kedua tokoh tersebut, sontak saya yakin akan mengarah kepada dua organisasi Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan berdasarkan pengalaman penulis ketika membahas terkait keislaman, maka yang ditanyakan pasti “Kamu Muhammadiyah atau NU?” Hal tersebut menandakan bahwa ketika dilihat melalui pandangan seseorang yang bertanya perihal seperti itu, pasti mereka mempunyai pandangan bahwasanya kedua organisasi ini berbeda. Terlepas pandangan mereka perbedaan itu akan selalu bentrok atau perbedaan itu bisa juga saling bekerja sama. Hal tersebutlah yang akan penulis bahas dengan mengaitkan peran besar KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari.

Dua sosok kiai tersebut menurut penulis merupakan sosok representasi kerukunan dalam perbedaan yang merupakan sebuah keniscayaan. Sama-sama tumbuh besar melalui keilmuan pesantren lewat beberapa guru yang sama, mulai dari Indonesia sampai menimba ilmu ke Mekkah, keduanya bisa dikatakan sedikit berbeda terkait ketertarikan ideologinya, hal itu terbukti ketika pulang ke tanah air, berdirinya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menandakan adanya perbedaan fokus di dua organisasi tersebut. Sebut saja, Muhammadiyah fokus akan amalnya, sedang NU fokus akan keilmuan keislamannya. Hal tersebut pastinya penulis tidak beranggapan untuk mengurangi kedua sisi tersebut di kedua organisasi yang didirikan oleh kedua ulama yang besar ini.

Seperti diketahui, terlepas beliau berdua telah mendirikan organisasi yang berbeda, organisasi yang memiliki kultur, ciri khas, visi, misi yang berbeda. Kedua kiai ini pada masa perjuangannya menuntut ilmu pernah menimba ilmu di satu guru yang sama. Merujuk pada buku karya Imron Mustofa berjudul K.H Ahmad Dahlan Sang Penyantun (2018), dua bapak umat Islam di Indonesia ini bersahabat sejak sama-sama berguru kepada Kiai Saleh Darat asal Semarang. Imron menulis, saat itu Kiai Dahlan berumur 16 tahun sedangkan Kiai Hasyim berumur 14 tahun (dikutip dari Muhammadiyah.or.id). Pada saat itu, tidak hanya menimba ilmu pada guru yang sama, tetapi beliau berdua juga tidur di asrama yang sama selama dua tahun, KH Hasyim Asyari karena lebih muda dua tahun dengan KH Ahmad Dahlan, beliau memanggil KH Ahmad Dahlan dengan panggilan “Kangmas Darwis”, sedang KH Ahmad Dahlan memanggil KH Hasyim Asyari dengan panggilan “Adi Hasyim”. Jauh selepas itu, kedua ulama ini melanjutkan pendidikannya masing-masing, dan pada akhirnya diketemukan kembali di Arab Saudi dengan guru yang sama, yakni Syaikh Khatib Al-Minangkabawi, salah satu ulama besar dari Indonesia yang menjadi guru di Makkah karena keilmuannya. Pada pencarian ilmu di Makkah ini lah yang menjadi awal perbedaan dan titik singgung dari kedua tokoh ini. Diketahui Mbah Hasyim lebih senang mendalami ilmu-ilmu hadits yang disandarkan kepada ulama-ulama mahdzab, sedang Mbah Dahlan tertarik kepada gerakan-gerakan Islam pada saat itu, khususnya pemikiran dari seorang tokoh pembaharu, yakni Muhammad Abduh. Pemikirannya terkait dengan semangat revolusi umat Islam yang pada saat itu terbelakang dan terjajah agar keluar dari penjajahan membuat KH Ahmad Dahlan tertarik dengan pemikirannya setelah melihat kondisi lingkungan di tanah air Indonesia.

Lain halnya dengan KH Hasyim Asyari, alih-alih tertarik dengan pemikiran pembaharu Muhammad Abduh, beliau malah sempat mengkritik pemikiran Muhammad Abduh. Dikutip dari Islami.co, pemikiran Abduh yang banyak dikritisi oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah dalam hal keterlepasan umat Islam dari ikatan madzhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Menurut beliau, memahami al-Qur’an dan al-Sunnah yang menjadi sumber utama ajaran Islam mustahil dilakukan tanpa merujuk pada pendapat ulama-ulama yang tersebut tertuang dalam sistem madzhab. Menafsirkan sendiri al-Qur’an dan al-Sunnah tanpa melakukan kajian dan penelitian terhadap pemikirian ulama madzhab, hanya akan melahirkan kerancuan-kerancuan dari hakikat ajaran Islam itu sendiri. Bahkan di salah satu kitab Mbah Hasyim, menyebutkan bahwa telah tumbuhnya aliran berbahaya yang bersebrangan dengan ulama-ulama Nusantara pada saat itu, aliran yang dimaksud pada saat itu yakni aliran yang terpengaruh pemikiran-pemikiran dari Muhammad Abduh salah satunya.

Bagi KH Ahmad Dahlan setelah membaca bacaan-bacaan dari para tokoh pembaharu dan berdasarkan keilmuannya yang ia peroleh dari guru-guru yang sama dengan KH Hasyim Asyari tadi, menyimpulkan bahwa, gerakan Ijtihad dan Tajdid yang dikemas dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah gerakan yang paling jitu untuk membersihkan pola pikir umat dari kejumudan yang terkesan konservatif. Menurut beliau dalam memahami agama, seseorang haruslah menggali pemahaman tersebutdari sumber aslinya dengan tidak meniggalkan metode pemahaman yang komprehensif dan kontekstual, sehingga agama Islam yang memang ajarannya menembus ruang dan waktu tidak menjadi kaku, yang pada akhirnya bisa melahirkan pemahaman-pemahaman radikal.

Terlepas dari singgungan perbedaan tersebut, di suatu kisah ada seorang santri dari KH Hasyim Asyari yang tinggal di Kauman, tempat berdakwahnya KH Ahmad Dahlan. Ia bernama Basyir, pada saat itu Basyir melaporkan kepada Kiai Hasyim tentang adanya seorang tokoh yang mendakwahkan agama Islam dengan cara yang aneh setelah kepulangannya dari Makkah. Dikutip dari Pwmjateng.com, dalam tulisan Pendi Purwa di halaman 38-39 yang berjudul “Dahlan, Hasyim, dan Basyir” ada cerita ketika terjadi dialektika antara Hasyim Asy’ari dan santrinya. Percakapan itu dimulai dari pernyataan santrinya bahwa di kampung Kauman (tempat tinggal K.H. Ahmad Dahlan) ada seorang kiai yang baru pulang dari Makkah akan tetapi membuat gerakan/sesuatu yang aneh. Lantas Kiai Hasyim bertanya “siapa namanya?”. Santrinya pun menjawab “Ahmad Dahlan, Kiai”. Lantas Kiai Hasyim Asy’ari menanyakan ciri-cirinya. Dan sangat tepat ternyata kiai tersebut adalah Ahmad Dahlan, yang juga beliau kenal. Di akhir percakapan tersebut Hasyim Asy’ari menasihati santrinya bahwa apa yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan ada dasarnya. Sehingga beliau meminta santrinya tidak memusuhi. Justru sebaliknya, beliau meminta santrinya untuk membantu K.H Ahmad Dahlan. Kisah ini juga didapatkan penulis melalui menonton film “Jejak Langkah 2 Ulama” yang digagas oleh pimpinan pusat Muhammadiyah yang bekerja sama dengan pimpinan pondok pesantren Tebu Ireng.

Sumber Gambar: IPMafa.ac.id

Terkait dengan perbedaan di atas, Kiai Hasyim dan Kiai Dahlan walau tampak berbeda pendapat tetapi tetap saling menghormati dan saling mendukung. Tak rasa perlu generasi bangsa ini mencontoh dari kedua tokoh ini, karena jelas peran dari kedua tokoh besar tadi tidak dapat diragukan lagi terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia. Meminjam istilah Buya Syafi’ Maarif, bahwa keberhasilan kedua tokoh tersebut dalam membebaskan umat dan bangsa Indonesia dari jurang kehancuran baik karena penjajahan atau karena faktor lain karena ditopang oleh semangat jihad individual. Maksudnya adalah semangat untuk menjadi uswah dan panutan menjadi ruh keberhasilan dalam dakwah beliau berdua. Antara KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari sama-sama bersepakat, bahwa untuk mengangkis umat dan bangsa ini dari kehancuran dan kebinasaan harus dengan mengadakan revolusi dari berbagai sektor, namun yang paling dititikberatkan oleh beliau berdua adalah revolusi intelektual dan mental. Menurut penulis, gerakan dan pemikiran yang dicetuskan oleh beliau berdua hingga saat ini masih relevan demi kemajuan dan kerukunan dari bangsa Indonesia.

Walhasil dari kisah kedua ulama besar tersebut, penulis menyimpulkan bahwasanya perbedaan yang sifatnya keniscayaan tersebut bisa menjadi ruang untuk saling menerima dan membangun bangsa. Bahkan perbedaan dalam sebuah hadis, terlepas itu statusnya kuat atau lemah, dinyatakan sebagai rahmat. Di samping hal tersebut, di kalangan mahasiswa perbedaan pendapat untuk saling tukar pikiran menajadi sebuah hal yang wajar adanya, karena di kalangan akademik, perbedaan pendapat untuk mencari kesimpulan pendapat yang paling bijak dan valid merupakan sebuah hal yang pasti terjadi. Maka dari itu, generasi muda, generasi bangsa, agaknya tak mudah baperan terkait perbedaan-perbedaan yang ada di sekitarnya, dari perbedaan tersebut harusnya sikap saling berlapang dada dalam perbedaan dan bekerja sama dalam persamaan harusya digalakkan kembali. Agar kebijaksanaan dan kedewasaan dalam meramu dan merawat bangsa ini dapat dijalankan dengan semestinya. 

Komentar

Postingan Populer