Perilaku dan Tulisan Nyeleneh Mahasiswa di Aksi Demonstrasi, Warnai Aksi Mahasiswa Bertajuk Solo Raya Menggugat

 

Perilaku dan Tulisan Nyeleneh Mahasiswa di Aksi Demonstrasi, Warnai Aksi Mahasiswa Bertajuk Solo Raya Menggugat

Oleh: Dani Anwar Hadi


SOLO – BEM SR atau BEM se-Solo Raya menggelar aksi demonstrasi yang dipusatkan di Bundaran Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Aksi tersebut digelar pada Kamis, 14 April 2022 dengan diikuti puluhan sampai ratusan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi.

Berdasarkan pantauan penulis pada Kamis siang menjelang sore, beberapa mahasiswa mulai berdatangan dan berkumpul di titik kumpul yang dipusatkan di Ngarsopuro. Pada titik kumpul tersebut, para mahasiswa yang terhimpun pada aksi tersebut Melakukan orasi yang diselingi nyanyian-nyanyian sindiran sebagai sindiran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan rakyat pada umumnya.

Adanya aksi demonstrasi tersebut, sejumlah petugas dari Polresta Solo diturunkan untuk mengamankan dan mengawasi jalannya aksi demonstrasi tersebut, selain hal itu mereka juga mengatur jalannya lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan di area titik kumpul. Setelah dirasa para mahasiswa yang tergabung dalam aksi massa tersebut sudah penuh, aksi massa dengan dipimpin Korlap (Koordinator Lapangan) berjalan menuju ke titik pusat di bundaran Gladak, Jalan Slamet Riyadi.

Diketahui dari pengamatan penulis sebelum massa ini berlangsung, aksi demonstrasi yang diprakarsai oleh BEM Solo Raya ini dilatar belakangi adanya beberapa tuntutan dari para mahasiswa. Tuntutan-tuntutan tersebut di antaranya yakni wacana penundaan pemilu, kenaikkan harga BBM, menstabilkan harga dan kelangkaan minyak, serta pengkajian ulang tentang undang-undang IKN yang ke semua tuntutan tersebut tertera pada pamflet dan kajian akademik yang dibuat BEM Solo Raya sebagai pemarkrasa aksi ini.

Seperti yang diketahui, pada aksi demonstrasi tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai aspirasinya terhadap kondisi pemerintahan saat ini. Aspirasi-aspirasi yang diungkapkan oleh para mahasiswa berwujud berbagai bentuk. Salah satunya dengan bentuk-bentuk tulisan poster dan spanduk yang dihentangkan oleh setiap kelompok mahasiswa. Tulisan Seperti “Rakyat dicekik di masa paceklik”, “Butuh pawang minyak bukan pawang hujan” mewarnai bentuk protes melalui tulisan. Selain itu, ditemukan pula tulisan yang terkesan nyeleneh dan tak pantas diperlihatkan di depan umum, yakni tulisan “lebih enak 3 ronde, dari pada 3 periode”. Tulisan tersebut setelah diketahui oleh Korlap yang berada di atas mobil komando langsung ditegur untuk diturunkan dan tidak diperlihatkan. “Tulisan ngono kae delok, malah ngisin-ngisini mahasiswa” ujar salah satu demonstran yang berada di pinggir jalan.

Selain beberapa tulisan nyeleneh yang menyita perhatian, ada pula beberapa perilaku dari mahasiswa di saat demonstrasi yang terkesan agak memprihatinkan. Bagaimana tidak, pada bulan suci Ramadan yang notabene adalah bulan wajib bagi umat Islam untuk berpuasa, nyatanya banyak mahasiswa di tengah-tengah aksi demo yang tidak berpuasa atau membatalkan puasanya di tengah-tengah aksi demonstrasi tersebut. Berdasar pantauan tidak sedikit mahasiswa di negeri mayoritas muslim ini yang tak bisa mempertahankan kewajibannya di tengah-tengah aksi baik dalam menyuarakan kebenaran.

“Aksinya tidak salah, sesuai konstitusi, tetapi jika diimbangi dengan perilaku yang baik dan tidak menyalahi kewajiban Islam itu akan lebih baik dan bijak” Kata salah satu mahasiswa yang turut menyuarakan tuntutan di aksi massa.

Terlepas dari bentuk tulisan dan perilaku nyeleneh mahasiswa di aksi tersebut, pada akhirnya aksi demonstrasi berjalan dengan damai dan membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WIB dengan berjalan pulang ke arah titik kumpul awal di Ngarsopuro, tepatnya Patung Slamet Riyadi.

Komentar

Postingan Populer