Perilaku dan Tulisan Nyeleneh Mahasiswa di Aksi Demonstrasi, Warnai Aksi Mahasiswa Bertajuk Solo Raya Menggugat
Perilaku
dan Tulisan Nyeleneh Mahasiswa di Aksi Demonstrasi, Warnai Aksi Mahasiswa Bertajuk
Solo Raya Menggugat
Oleh:
Dani Anwar Hadi
Berdasarkan pantauan penulis
pada Kamis siang menjelang sore, beberapa mahasiswa mulai berdatangan dan
berkumpul di titik kumpul yang dipusatkan di Ngarsopuro. Pada titik kumpul tersebut, para mahasiswa yang terhimpun pada aksi tersebut Melakukan
orasi yang diselingi nyanyian-nyanyian sindiran sebagai sindiran terhadap kebijakan-kebijakan
pemerintah yang dirasa merugikan rakyat pada umumnya.
Adanya aksi demonstrasi
tersebut, sejumlah petugas dari Polresta Solo diturunkan untuk mengamankan dan
mengawasi jalannya aksi demonstrasi tersebut, selain hal itu mereka juga
mengatur jalannya lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan di area titik
kumpul. Setelah dirasa para mahasiswa yang tergabung dalam aksi massa tersebut
sudah penuh, aksi massa dengan dipimpin Korlap (Koordinator Lapangan) berjalan
menuju ke titik pusat di bundaran Gladak, Jalan Slamet Riyadi.
Diketahui dari pengamatan
penulis sebelum massa ini berlangsung, aksi demonstrasi yang diprakarsai oleh BEM
Solo Raya ini dilatar belakangi adanya beberapa tuntutan dari para mahasiswa.
Tuntutan-tuntutan tersebut di antaranya yakni wacana penundaan pemilu, kenaikkan
harga BBM, menstabilkan harga dan kelangkaan minyak, serta pengkajian ulang tentang
undang-undang IKN yang ke semua tuntutan tersebut tertera pada pamflet dan
kajian akademik yang dibuat BEM Solo Raya sebagai pemarkrasa aksi ini.
Seperti yang diketahui,
pada aksi demonstrasi tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai aspirasinya terhadap
kondisi pemerintahan saat ini. Aspirasi-aspirasi yang diungkapkan oleh para
mahasiswa berwujud berbagai bentuk. Salah satunya dengan bentuk-bentuk tulisan
poster dan spanduk yang dihentangkan oleh setiap kelompok mahasiswa. Tulisan
Seperti “Rakyat dicekik di masa paceklik”, “Butuh pawang minyak bukan pawang hujan”
mewarnai bentuk protes melalui tulisan. Selain itu, ditemukan pula tulisan yang
terkesan nyeleneh dan tak pantas diperlihatkan di depan umum, yakni tulisan “lebih
enak 3 ronde, dari pada 3 periode”. Tulisan tersebut setelah diketahui oleh
Korlap yang berada di atas mobil komando langsung ditegur untuk diturunkan dan
tidak diperlihatkan. “Tulisan ngono kae
delok, malah ngisin-ngisini mahasiswa” ujar salah satu demonstran yang berada
di pinggir jalan.
Selain beberapa tulisan
nyeleneh yang menyita perhatian, ada pula beberapa perilaku dari mahasiswa di
saat demonstrasi yang terkesan agak memprihatinkan. Bagaimana tidak, pada bulan
suci Ramadan yang notabene adalah bulan wajib bagi umat Islam untuk berpuasa,
nyatanya banyak mahasiswa di tengah-tengah aksi demo yang tidak berpuasa atau
membatalkan puasanya di tengah-tengah aksi demonstrasi tersebut. Berdasar
pantauan tidak sedikit mahasiswa di negeri mayoritas muslim ini yang tak bisa
mempertahankan kewajibannya di tengah-tengah aksi baik dalam menyuarakan kebenaran.
“Aksinya tidak salah,
sesuai konstitusi, tetapi jika diimbangi dengan perilaku yang baik dan tidak
menyalahi kewajiban Islam itu akan lebih baik dan bijak” Kata salah satu mahasiswa
yang turut menyuarakan tuntutan di aksi massa.
Terlepas dari bentuk
tulisan dan perilaku nyeleneh mahasiswa di aksi tersebut, pada akhirnya aksi
demonstrasi berjalan dengan damai dan membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WIB
dengan berjalan pulang ke arah titik kumpul awal di Ngarsopuro, tepatnya Patung
Slamet Riyadi.



Komentar
Posting Komentar