Ulasan Film The Post (2017)

The Post ini menceritakan terkait keterlibatan media massa di Amerika Serikat khususnya The Washington Post dalam mengungkap skandal militer yang berlangsung di bawah pemerintahan Richard Nixon pada awal dekade 70-an. Bukan, bukan mengenai Watergate yang menghebohkan itu, melainkan bocornya dokumen-dokumen rahasia setebal 4000 halaman lebih yang disebut Pentagon Papers. Dalam dokumen yang mencakup data-data dari tahun 1945 hingga 1967 tersebut, terpapar analisa mendalam yang menyatakan bahwa negeri Paman Sam sejatinya tidak memiliki kans untuk berjaya dalam Perang Vietnam. Alasan terbesar yang lantas membuat Amerika Serikat kekeh bertahan dan enggan menarik pasukan dari medan tempur adalah ketidakrelaan untuk menanggung rasa malu karena kekalahan atau dengan kata lain, gengsi.

Pada intinya film ini mengungkap kebohongan besar pemerintahan pada masanya, yakni pada pemerintahan presiden Richard Nixon. Yang mana Menteri Pertahanan mereka pada saat itu, mengatakan pada pers tentang kejadian yang tak sebenarnya. Kejadian tersebut yakni terkait kalah telaknya pasukan Amerika saat melawan Vietnam pada peperangan. Hal itu membuat Daniel Ellsberg kecewa sebagai analisis militer yang bekerja untuk duta Amerika di Vietnam dan dia-lah yang Memberikan kabar terkait situasi terkini di peperangan pada saat itu, dia kecewa karena kebohongan seorang Menteri pertahanan untuk menutupi kekalahan Amerika dengan Vietnam dikarenakan gengsi dan lebih mengorbankan para prajurit militer Amerika.

Kekecewaan Ellsberg tersebut membuatnya bertekad untuk menceritakan hal yang nyatanya terjadi melalui dokumen negara yang bocor yang telah ia riset, pada awalnya ia menghampiri reporter dari New York Times untuk mendesak segera menerbitkannya hasil riset yang mengemukakan kejadian sebenarnya di peperangan Amerika melawan Vietnam. Setelah akhirnya berhasil diterbitkan, New York Times mendapatkan berbagai ancaman dari pihak istana, dalam artian kepemerintahan. Sampai akhirnya harus berakhir dalam persidangan untuk melawan gugatan dari presiden pada saat itu. Mendengar hal itu, media massa besar lainnya, yakni The Washington Post tak mau kehilangan momen untuk juga memberitakan kebenaran tersebut. Seorang senior dari Washington Post Melakukan pengacakan terhadap Ellsberg untuk mencari dan menggali data terkait berita tersebut.


Dari pencarian data tersebut, akhirnya seorang senior tersebut mengumpulkan orang-orang terpercayanya untuk memulai menyusun berita terkait hal itu. Resiko untuk menyusun ini, bisa saja Washington Post dibawa ke peradilan dengan dalih pelanggaran UU tentang Spionase negara. Dengan pertimbangan dan ancaman dari berbagai pihak, akhirnya Kay Graham, seorang pemilik Washington Post menyetujui untuk menerbitkan berita tersebut, karena dirasa fungsi dari media massa yakni untuk memberitakan sebuah kebenaran.

Dari peristiwa tersebut benar, mereka harus berurusan dengan pihak pengadilan. Dan hal tersebut lah seakan-akan malah menjadi sebuah pemantik dari rakyat untuk mendukung langkah dua media massa tersebut. Banyak aksi demo yang dilakukan oleh rakyat kepada pemerintahan untuk segera memberhentikan perangnya dan mengakhiri kebohongan busuk di balik itu semua. Selain itu, hal itu pula membuat media massa yang lainnya berani untuk menerbitkan berita kebenaran tersebut. Pada akhirnya hari persidangan telah tiba, dan akhirnya putusan mengatakan surat kabar (New York Times dan Washington Post) menang dalam 6-3 melawan gugatan dari pihak Gedung putih.  

Hal yang dapat diambil pelajaran, bagaimana independensi sebuah perusahaan surat kabar atau media massa harusnya tetap ditegakkan guna terciptanya kehidupan rakyat yang demokratis dan dapat mengontrol kebijakan-kebijakan rakyat. Serta media massa seyogyanya juga menjadi panglima rakyat untuk melawan kebusukan dan kebohongan para politikus demi terwujudnya pemerintahan sebuah negara yang sehat.

Trailer Film The Post (2017)

Oleh: Dani Anwar Hadi
NIM: A310190012

Komentar

Postingan Populer